Workshop Mobile Learning Berbasis Articulate Storyline di Sekolah Mitra PPG Perkuat Pembelajaran Diagnostik Kendaraan Listrik

MALANG – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) yang diketuai Dr. Dani Irawan, S.Pd., M.Pd. menyelenggarakan Workshop Pembuatan Mobile Learning Media Berbasis Articulate Storyline untuk Menunjang Pembelajaran Mendalam Diagnostik Kendaraan Listrik EV di Sekolah Mitra PPG (SMK PGRI 3 Malang). Program yang didanai melalui Dana Internal Universitas Negeri Malang Tahun 2026 pada skema Pengabdian Projek Kepemimpinan PPG ini melibatkan tiga dosen (satu ketua dan dua anggota) serta dua mahasiswa sebagai bagian dari tim pelaksana. Kegiatan bermitra dengan SMK PGRI 3 Malang yang dipimpin oleh Muhammad Luqman Hakim, S.T. selaku kepala sekolah dan diikuti oleh 17 guru produktif serta unsur pendukung pembelajaran. Program bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogi digital guru melalui pengembangan mobile learning interaktif berbasis Articulate Storyline guna mendukung pembelajaran mendalam pada materi diagnostik kendaraan listrik.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan analisis kebutuhan, observasi pembelajaran, dan identifikasi kompetensi digital guru. Selanjutnya tim memberikan workshop intensif selama 32 jam pelajaran (JP) yang mencakup penguatan konsep TPACK, pelatihan penggunaan Articulate Storyline, penyusunan flowchart dan storyboard, pengembangan multimedia interaktif, simulasi diagnostik kendaraan listrik, penyusunan bank soal digital, integrasi media ke dalam modul ajar, peer teaching, implementasi di kelas, hingga monitoring dan evaluasi. Selama proses tersebut dosen berperan sebagai narasumber dan pendamping teknis, mahasiswa mendukung pendampingan praktik serta dokumentasi kegiatan, sedangkan guru mitra secara aktif mengembangkan media pembelajaran yang langsung diimplementasikan pada proses belajar mengajar di sekolah.


Program menghasilkan mobile learning interaktif yang memuat visualisasi sistem kendaraan listrik, video, animasi, simulasi diagnostik, branching scenario, kuis interaktif, bank soal digital, asesmen formatif, dan modul ajar terintegrasi. Implementasi program membawa perubahan nyata terhadap proses pembelajaran di SMK PGRI 3 Malang, dari penggunaan media presentasi konvensional menjadi pembelajaran digital yang lebih interaktif, fleksibel, dan berbasis pemecahan masalah. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata peserta meningkat dari 56,53 pada pretest menjadi 86,29 pada posttest atau meningkat 29,76 poin, sementara 15 dari 17 peserta (88,24%) telah mampu mengembangkan komponen utama mobile learning secara mandiri. Program juga menghasilkan berbagai luaran berupa publikasi ilmiah pada jurnal terakreditasi, publikasi media massa nasional, model pelatihan Articulate Storyline, inovasi mobile learning diagnostik kendaraan listrik, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta draft buku.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pendidikan vokasi berbasis teknologi digital dan penguatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran abad ke-21. Selain menghasilkan inovasi media pembelajaran, program ini memperkuat implementasi konsep TPACK, mobile learning, asesmen digital, serta membangun komunitas praktik guru sebagai strategi keberlanjutan inovasi pembelajaran di sekolah. Dampak yang diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran diagnostik kendaraan listrik, tetapi juga menjadi model pengembangan pembelajaran digital yang dapat direplikasi pada sekolah kejuruan lainnya.


Ketua tim pengabdian, Dr. Dani Irawan, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa workshop ini dirancang untuk membangun kompetensi guru secara menyeluruh, bukan sekadar mengajarkan penggunaan perangkat lunak. Melalui integrasi teknologi, pedagogi, dan konten kejuruan, guru diharapkan mampu menghasilkan media pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada pembelajaran mendalam. Ke depan, Universitas Negeri Malang bersama SMK PGRI 3 Malang akan melanjutkan program melalui penyempurnaan produk, pembentukan komunitas praktik, implementasi media pada mata pelajaran lain, pengembangan repositori media digital, replikasi program ke sekolah kejuruan lainnya, serta penyelesaian publikasi ilmiah dan HKI sebagai bentuk keberlanjutan program.



Leave a Reply