Tim Pengabdian UM Hadirkan Mesin Pencacah Plastik untuk Perkuat Technopark Desa Padusan

MALANG – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) yang diketuai Dr. Dani Irawan, S.Pd., M.Pd. berhasil mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi Single Shaft Hard Plastic Shredder sebagai solusi pengolahan sampah plastik kawasan wisata di Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Program yang didanai melalui Dana Internal Universitas Negeri Malang Skema Pengabdian Masyarakat Tema Khusus Tahun 2026 ini melibatkan empat dosen dan dua mahasiswa sebagai tim pelaksana, bermitra dengan Pemerintah Desa Padusan yang dipimpin Kepala Desa Irvani Muarifah. Kegiatan diikuti oleh 17 peserta yang terdiri atas pengelola TPS 3R, perangkat desa, pengelola kawasan wisata, dan perwakilan masyarakat dengan tujuan membangun sistem pengelolaan sampah plastik wisata yang lebih efektif sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui produksi ecobrick.

Pelaksanaan program diawali dengan survei lapangan dan identifikasi permasalahan, dilanjutkan dengan analisis kebutuhan mitra, perancangan serta fabrikasi mesin Single Shaft Hard Plastic Shredder, pengujian fungsi, pelatihan pengoperasian mesin, praktik produksi ecobrick, pelatihan keselamatan kerja, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pelatihan manajemen keuangan berbasis Microsoft Excel. Seluruh rangkaian kegiatan menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, praktik langsung, dan alih teknologi sehingga masyarakat tidak hanya menerima bantuan teknologi, tetapi juga memperoleh kompetensi untuk mengoperasikan dan mengelolanya secara mandiri. Mahasiswa yang tergabung dalam tim turut mendukung pelaksanaan pelatihan, pendampingan teknis, dokumentasi kegiatan, dan implementasi teknologi di lapangan.
Program menghasilkan berbagai capaian nyata. Satu unit mesin Single Shaft Hard Plastic Shredder berhasil dikembangkan dengan kapasitas pencacahan rata-rata 45 kg per jam, sehingga proses pengolahan plastik yang sebelumnya dilakukan secara manual berubah menjadi sistem pencacahan mekanis yang lebih efisien. Plastik hasil cacahan kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan ecobrick yang memiliki nilai edukatif sekaligus mendukung pengembangan kawasan technopark desa. Dari sisi peningkatan kapasitas masyarakat, nilai rata-rata peserta meningkat dari 56,53 pada pretest menjadi 85,65 pada posttest, sedangkan 15 dari 17 peserta (88,24%) telah mampu mengoperasikan mesin secara mandiri. Program juga menghasilkan SOP operasional, sistem pencatatan keuangan berbasis Excel, model awal integrasi technopark, serta luaran wajib berupa publikasi ilmiah, publikasi media massa, peningkatan daya saing masyarakat, peningkatan penerapan IPTEK, dan pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk desain mesin yang dikembangkan.


Program ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan peluang usaha berbasis pengolahan sampah plastik serta SDGs nomor 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan sistem pengelolaan sampah kawasan wisata. Selain menghadirkan inovasi teknologi tepat guna, kegiatan ini juga memperkuat penerapan prinsip ekonomi sirkular dengan mengintegrasikan teknologi pencacahan plastik, produksi ecobrick, pemberdayaan masyarakat, penguatan tata kelola, serta pengembangan Technopark Desa Padusan sebagai infrastruktur edukatif yang mendukung keberlanjutan kawasan wisata.
Ketua tim pengabdian, Dr. Dani Irawan, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pengembangan teknologi ini bertujuan memberikan solusi nyata terhadap persoalan sampah plastik wisata sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola teknologi secara mandiri. Program tidak berhenti pada penyediaan mesin, tetapi diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan melalui pembentukan tim operasional, penerapan SOP, monitoring berkala, pengembangan produk ecobrick, integrasi technopark, hingga replikasi program di masa mendatang. Pemerintah Desa Padusan bersama Universitas Negeri Malang juga berkomitmen melanjutkan pendampingan teknis dan manajerial agar manfaat program terus berkembang bagi masyarakat serta mendukung penguatan destinasi wisata berbasis lingkungan.



Leave a Reply